Transendental yang mulai dikomentari, semenjak terjadinya perubahaan tradisi. Bertuah mulut si buta informasi, mendatakan yang ada-ada menjadi kebenarannya. Pancaran sinar su'udzon yang dianggap sebagai kebenaran dan kesepakatan bersama. Masa transendental yang memang tersembunyi dari kebiasaan budaya yang terjadi. prasangka demi prasangka menjadi-jadi, namun transendental tetaplah transendental.
Tiada data yang benar-benar valid jika mengetahui sebuah anomali. Anomali-anomali yang seharusnya memang menjadi sebuah pengetahuan tersendiri. Namun menghakimi memang sudah menjadi kegiatan yang sangat mudah, mencaci, bahkan menertawakan seolah berbeda dengan kestandaran hidup.
Terjadinya distorsi-distorsi atas prasangka, memberikan penyikapan sebuah afeksi-afeksi yang timbul dengan kognitifnya. Entah melalui dasar empiris yang mana, sehingga transendental yang bersifat ghaib dan tak terlihat itu bisa ternilai dengan prasangkanya.
Data-data yang valid bukan berada pada prasangka seseorang penilai, melainkan data yang berada pada hati seorang yang sedang dinilai transendentalnya. Meskipun yang dinilai itu menyembunyikan hatinya dengan perilaku yang berbeda pula. Tetap saja anomali kebenaran tersebut bernilai salah dan menjadi sebuah distorsi fakta yang ada.
Tradisi itu timbul semenjak adanya ruang-ruang kebenaran pribadi yang disepakati menjadi sebuah kebenaran bersama. Alhasil menjadi yang dianggap benar, meskipun hanya sebuah distorsi. Entah apa jadinya, jika menjadi seseorang yang dinilai mengatakan bahwa "Perilaku difitnah", apakah distorsi itu akan lebih menguat atau justru sebaliknya meminta maaf.
Dampak prasangka memanglah sangat besar, karena pikiran memang cerewet dan untuk mengukur kadar cerewet pikiran itu tak mudah. Bahkan pikiran mampu mengelola cerewetnya mulut. Namun, dalam hal mulut seharusnya tersembunyi menyatakan pendapat yang memang berupa distorsi dan tak valid.
Karena efek dibalik efek itu mempunyai sebuah sebab-sebab yang meski ditanggung jawabkan, meskipun sepertinya tidak ada hal yang dipertanggungjawabkan. Seperti yang terkutip pada kejadian sejarah dan menanggung hari ini. Itu adalah sebuah jawaban dari tanggung jawab yang semestinya disesalkan.
"Hari ini adalah menjawab pertanyaan hari esuk"
Ciptakan hari ini menjadi sebuah data faktual, jangan menjadikan sebuah distorsi sebagai kepercayaan dan diyakini bersama bahwa itu kebenaran. Namun benar-benar membuat validasi-validasi yang semestinya mempunyai turunannya. Dengan merunut kejadian-kejadian yang berupa valid menjadi sebuah tradisi dan budaya yang semestinya diberdayakan, bukan menjadi tradisi yang distorsi atas validasi.
Transendental adalah Hak Tuhan. Seseorang yang menilai dan berprasangka kepada sesuatu yang transendental, seperti halnya menelanjangi kebodohan di hadapan Tuhan. Bukankah rencana kehidupan sudah direncanakan tuhan.



EmoticonEmoticon