Friday, May 10, 2019

Aku dihina, Aku Sabar


Stimulus demi stimulus setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari didata oleh panca indera kemudian di informasikan kepada memori atau alat ukur ingatan manusia yaitu otak. Otak adalah tempat penyimpanan data-data yang didapatkan dari hasil input panca indera, maka outputnya adalah ingatan. Ingatan berupa informasi-informasi yang didapatkan dari stimulus tersebut.

Waktu dan ruang memiliki transaksi, dimana terjadinya stimulus itu terjadi dan didata oleh pancaindera. Adanya sebuah lokasi yang memiliki implikasi dan distimulasi oleh keadaan. Keadaan menceritakan segala data yang faktual. Kemudian informasi dikelola secara sinkron sesuai dan sejalan. 

Mengenai hal ini berbicara tentang sedikit tentang 1 detik yang akan terjadi, 1 detik pada ketepatan, dan 1 detik yang akan berlalu. Dimana implikasi terjadi dengan adanya sebuah sebab-sebab yang mana mungkin bernilai negatif, dan seharusnya langsung berakibat pada nilai yang positif. 

"Aku dihina, aku sabar"

Kalimat "aku dihina" menujukkan sebuah sebab-sebab. Esensinya terjadi pada waktu yang memang dalam keadaan di hina, namun disitu mengenal kata "di" artinya bukan berarti benar-benar hina. Namun hanya dianggap hina. Hanya dianggap sebagian orang yang punya kesepakatan untuk bersama-sama menghina. 

"Aku sabar" adalah bentuk penyikapan, bentuk representasi dari akibat-akibat yang menjadi jawaban dari sebab. Implikasi yang membuahkan sebuah manifestasi kesabaran. Membuat keadaan diri menjadi mengolah rasa, mengolah pikiran, dan mengolah daya tahan tubuh. Sehingga efektifitas yang dihasilkan adalah kesabaran. 

Bentuk stimulus yang negatif dapat menjadi stimulus yang positif. Ketika adanya proses energy negatif untuk menstimulasikan energi positif. Dari kejadian "Aku dihina, Aku Sabar" memiliki sebuah esensi yang sangat dalam. 

Esensi-esensi yang digambarkan dengan adanya sebuah ruang dan waktu. Adanya implikasi-implikasi tertentu. Adalah kejadian yang berpasangan. Kejadian yang saling membutuhkan. Untuk melengkapi esensi itu sendiri. 

Semakin energy negatif itu menguat, energy penghinaan itu semakin menjadi. Maka energy positif pun semakin menjadi-jadi. Kesabaran semakin benar-benar kuat. Sehingga sabar memiliki tingkatan yang begitu luas. Tak terjangkau dengan akal manusia. 


EmoticonEmoticon